Keseriusan Pemerintah Dalam Program Pengentasan Kemiskinan Sangat Diharapkan

25 Dec

*Ide tulisan ini berasal dari salah satu berita VOA yang diposkan di website VOA Indonesia pada Kamis, 08 Desember 2011 berjudul ”Pengamat: Program Penanganan Kemiskinan PU Harus Tepat Sasaran.” Merupakan laporan Iris Gera- Jakarta.

Di Kabupaten Kebumen, jumlah penduduk miskin masih relatif cukup banyak. Di wilayah ini angka pengangguran pada usia produktif terbilang tinggi. Minimnya lapangan pekerjaan di Kebumen membuat sebagian warga terpaksa merantau ke luar kota seperti Jakarta dan Jawa Barat. Sementara sebagian warga yang tinggal, rata-rata berprofesi sebagai kuli bangunan, kuli toko, tukang becak/ojek dan buruh tani. Kondisi fisik daerah ini juga masih semrawut dengan banyaknya pasar traditional yang kurang tertata dengan baik. Semantara itu kondisi jalan di banyak titik dan di pelosok-pelosok perkampungan, mengalami kerusakan parah dan terbengkalai. Kebumen, seperti juga daerah-daerah miskin lainnya di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan dan kepedulian dari pemerintah karena dana APBD daerah-daerah miskin ini jauh dari mencukupi.

Kabar dari VOA bahwa pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum sedang berfokus pada berbagai program dan pembangunan infrastruktur dan pemukiman bagi masarakat miskin di pedesaan sungguh menggembirakan. Usaha dan itikad baik pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan ini perlu mendapat sambutan positif. Seperti yang dikatakan pengamat ekonomi dari LIPI Siwage Dharma Negara, program-program rencana pembangunan di Indonesia harus menetapkan pengentasan kemiskinan sebagai salah satu prioritas program jangka panjang dan menengah setelah pendidikan dan kesehatan. Kita harapkan pemerintah betul-betul serius dalam menjalankan program-program ini. Masalah terbenturnya dana karena subsidi energi yang juga menjadi beban berat APBN, semoga pemerintah cukup cerdas dan bijaksana dalam mengukur dan menganalisa mana yang seharusnya lebih perlu mendapat perhatian.

Sementara itu mengenai Program Nasional Pemberdayaan Masarakat (PNPM) perkotaan yang juga melibatkan Kementrian PU, tentunya akan sangat bermanfaat bagi masarakat miskin kota, jika realisasi program ini betul-betul terarah dan optimal.

Penggunaan dana ratusan miliar untuk program pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur di ribuan desa dan kota ini semoga tidak sia-sia. Infrastruktur yang memadai akan sangat mendukung bagi kemajuan perekonomian yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya kualitas hidup masarakat miskin kota dan mereka yang tinggal di pedesaan. Pemerataan pembangunan tidak boleh lagi hanya sekedar wacana, tapi harus bisa betul-betul dinikmati oleh seluruh penduduk Indonesia dimanapun berada seadil-adilnya.

AIDS- Bukan Isu Baru

30 Nov

*Ide tulisan ini berasal dari salah satu berita VOA yang diposkan di website VOA hari Senin, 28 November 2011, berjudul ‘Penderita Baru HIV/AIDS di Jakarta Berjumlah 1.184 Orang.’ Merupakan laporan Fathiyah Wardah-Jakarta.

Kabar memprihatinkan bahwa jumlah penderita baru AIDS di Jakarta tahun 2011 ini mencapai angka yang fantastis hingga 1.184 orang. AIDS adalah isu kesehatan yang bukan baru. Masalah AIDS adalah tanggung jawab setiap individu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau badan badan sosial pemerhati AIDS saja. Sebenarnya masarakat kita adalah terdiri dari individu-individu cerdas yang tidak kekurangan informasi mengenai apa itu AIDS, cara menghindarinya, dst. Laporan dari VOA yang menyebutkan bahwa para penderita baru AIDS ini adalah para profesional muda dan ibu rumah tangga yang tertular melalui hubungan sex sungguh disayangkan. Masarakat Jakarta yang cerdas dan modern harusnya mampu mempersenjatai diri dengan perilaku cerdas serta keimanan yang kuat untuk menghindari perbuatan yang dapat membahayakan dirinya terkait dengan AIDS- sex bebas dll.

Bahwa Pemprov Jakarta melalui Komisi Penanggulangan AIDS telah menyiapkan program penanggulangan AIDS melalui transmisi sexual, patut mendapat dukungan. Sangat bagus jika program untuk tahun depan itu akan berfokus pada high risks men atau para pria beresiko tinggi untuk tertular dan menulari AIDS, yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Kita sama sama berdoa agar upaya Pemprov Jakarta ini bisa terimplementasi dengan baik, terpadu, terukur dan sukses. Yang terpenting dana untuk membiayai program ini semoga tidak ada yang menyelip ke kantong-kantong para pejabat nakal.

Dukungan dan doa juga pantas kita berikan kepada Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi atas kebijakan yang dikeluarkannya yang mewajibkan setiap perusahaan memiliki program penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja. Upaya penghapusan diskriminasi terhadap penderita AIDS di lingkungan kerja serta isu-lain mengenai AIDS kita harapkan akan tertangani dengan baik dengan adanya program ini. Setiap orang harus menyadari bahwa para penderita AIDS juga memiliki hak yang sama untuk mendapat pekerjaan dan kehidupan yang normal. Saya sangat setuju dengan Ibu Tika Suryaatmajaya dari Yayasan Pelita Ilmu bahwa pemerintah harusnya berani membuat satu kebijakan yang didalamnya memuat sangsi-sangsi tegas terhadap pelanggarnya. Karena sebuah peraturan yang sebagus apapun akan sulit berhasil jika tidak ada ketegasan dalam penegakannya, apalagi rentan suap. Mudah-mudahan para pembuat kebijakan, para perancang program dan setiap kita memiliki kesungguhan dalam setiap usaha baik yang dilakukan sehingga ide besar dari kebijakan dan program-program itu bisa terlaksana sebaik-baiknya dan tepat sasaran.

Terakhir kita semua berharap semoga KKN di negeri ini bisa terus diminimalisir jika tidak bisa benar-benar dihapuskan. Dan semoga pendapatan dan perekonomian negeri ini terus meningkat, sehingga berbagai program pemerintah bisa terdanai dengan baik, termasuk program penanggulangan HIV/AIDS. Sungguh prihatin mendengar ungkapan pengamat kesehatan UI Adang Bachtiar bahwa saat ini pemerintah Indonsia tidak memiliki dana yang memadai untuk pembiayaan program penanggulangan HIV/AIDS dan masih bergantung dengan dana dari luar.

Selamat hari AIDS Sedunia.

SIRIK, PENYAKIT HATI YANG SUNGGUH MERUGIKAN!

16 Oct

Sirik. Satu kata yang tidak asing. Menurut saya, hampir setiap manusia memiliki kecenderungan sifat ini. Hanya takarannya yang tak sama. Ada orang yang meski merasa sirik dengan prestasi yang diraih temannya, tapi dia bisa menyembunyikan bara di dadanya (entah besar atau kecil) dengan tetep tersenyum menampakkan wajah cerah memberi ucapan selamat. Sementara ada juga orang yang langsung menampilkan wajah jutek saat temannya bercerita kalau si A berhasil mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus dari yang dimilikinya. Rasa sirik atau iri hati melihat kelebihan dan keberhasilan orang lain ini, sepertinya sudah membudaya dan menjalar di mana mana di tengah masyarakat kita. Jujur saja, setiap kita pasti pernah merasa sirik bukan? Entah disadari atau tidak dan dengan tingkatan yang berbeda beda mulai dari yang rendah tidak kelihatan hingga yang paling parah. Mungkin hanya orang orang yang memiliki derajat keimanan yang sangat tinggi atau orang orang yang dipilih Tuhan saja yang sama sekali tidak pernah dihinggapi perasaan sirik sepanjang hidupnya.
Sekarang mari kita lihat. Ketika kita merasa sirik dengan kebahagiaan teman atau tetangga, apalagi kalau porsi siriknya kelewat besar, maka biasanya kita cenderung akan terus memikirkan orang yang kita siriki itu, berusaha mencari cari kejelekannya, mengajak orang untuk berghibah atau bergossip buruk tentangnya, bahkan lebih parah lagi memfitnahnya dengan kejam. Kita bisa ngrasani orang hingga berjam jam. Dan celakanya, ‘kenikmatan’ yang kita rasakan saat membicarakan kejelekan orang adalah candu yang jauh lebih sulit dihindari dari sekedar candu rokok atau alkohol. Meski kita tahu bahwa dosa dari berghibah adalah dikurangimya pahala kita untuk orang yang kita ghibahi. Sungguh sangat merugikan bukan? Kerugian lain yang nyata adalah, ketika kita sibuk melakukan hal hal negatif yang didasari rasa sirik, maka waktu, pikiran dan tenaga kita akan banyak tersita. Kita lupa untuk melakukan hal hal yang lebih penting dan bermanfaat. Kita lupa bersyukur, dan lupa bahwa setiap kita diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing masing.
Memang sangat sulit membuang jauh jauh kecenderungan sirik yang sepertinya sangat lekat dan erat dengan hati kita. Tapi saya yakin, setiap kita yang beriman, pasti akan berusaha mengelola hati kita dengan baik, menekan sekuat tenaga rasa sirik, hingga kita akhirnya menyadari bahwa memelihara sirik justru hanya akan semakin melemahkan diri dan hati kita dan membuat kita semakin kalah dalam ‘persaingan.’ Kalau kita mau belajar sedikit demi sedikit untuk merasa legowo dan ikhlas bahkan ikut bahagia melihat kebahagiaan orang lain, maka hati kita akan tenteram tanpa beban. Dan, sedikit mengutip lagu nasyid milik Aa Gym ‘Jagalah Hati,’ bahwa dengan hati yang bersih maka prestasi pun akan mudah diraih.
Jadi, mari berprestasi, mari kubur dalam dalam segala sirik dan iri hati, dan mari menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Salam 🙂

Hi ini aku :)

13 Oct

Ini pertama kali aku mencoba membuat blog. Aku masih sangat awam tapi aku sangat suka belajar. Mudah mudahan kedepannya aku bisa bikin posting posting yg menarik dan bermanfaat. Salam WORDPRESS! Lol